Dubook Indo

1. Alana jatuh cinta pada Dion, sementara cowok yang terlihat seksi saat berkeringat itu selalu membicarakan Bianca. Cewek kembar itu terpesona pada Dion dari sudut pandang yang berbeda.

2. Jika mata Lindu selalu menyimpan kangen pada wisanggeni … Walaupun Wisang begitu menyayangi Nerva. Ada yang harus dibayar mahal, karena mereka kehilangan orang kesayangan.

3. Sementara cewek seluruh kelas mendadak ingin memiliki Pak Erzet, melupakan Bu Nirmala yang selama ini mengajar mereka matematika.

4. “Kamu tidak percaya pada cinta yang terakhir?” Pertanyaan Dery kepada Hanum sebenarnya sebuah isyarat sekaligus pertaruhan. Tiba saatnya sang kekasih direlakan pergi, karena Hanum memilih matahari baru.

5. Akhirnya Pring Wulung menyadari, Astrina hanya tempat singgah. Cinta sesungguhnya sudah tumbuh di hati yang setia menunggu: Wening. “Aku tak dapat melupakan serabut wajah di antara pucuk-pucuk gelagah.”

Membaca Segi Tiga Cinta seperti menemukan oase bening di tengah beribu arus deras kisah-kisah yang berbisik. Sederhana, manis dan memuntaskan rasa haus.

Segi Tiga Cinta


Kutipan cerpen yang ditulis oleh A.A. Navis, sasterawan besar yang telah melahirkan karya-karya monumental dalam sejarah sastra Indonesia. Pemikirannya yang kritis dapat dijadikan sebuah otokritik bagi setiap pemeluk agama di Indonesia dan mana pun juga.

Silakan bercermin pada cerpen-cerpen yang ada dalam kumpulan ini. Lalu putuskan, apakah kita akan menarik hikmah dan manfaat atau bersikap “buruk rupa, cermin dibelah”.

Robohnya Surau Kami


Aku Ini Binatang Jalang adalah kumpulan puisi terlengkap karya penyair terbesar Indonesia CHAIRIL ANWAR. Sajak-sajaknya abadi dan terus dibacakan sepanjang masa. Selain keseluruhan sajak asli, dalam koleksi ini dimuat surat-surat Chairil kepada karibnya, H.B. Jassin.

Sajak-sajaknya men yediakan dasar bagi penulisan puisi sampai hari ini, demikian tulis Nirwan Dewanto dalam Kata Pembuka buku ini. Sementara Sapardi Djoko Damono menulis dalam Kata Penutup, bahwa beberapa sajak Chairil yang terbaik menunjukkan ia telah bergerak begitu cepat ke depan, sehingga bahkan bagi banyak penyair masa kini taraf sajak-sajaknya tersebut bukan merupakan masa lampau tetapi masa depan, yang mungkin hanya bisa dicapai dengan bakat, semangat dan kecerdasan yang tinggi.

Aku Ini Binatang Jalang


“Bom atom pertama meledak di Kota Hiroshima. Langit berselaput awan cendawan berbisa. Ketika memburai awan ini, bumi laksana hujan salju yang ganas. Gedung-gedung beton runtuh. Aspal-aspal jalan terbakar menyala. Bumi retak-retak berdebu, di segala penjuru. Dan beribu tubuh manusia meleleh, tewas atau terluka. Seekor kuda paling binal, berbulu putih dan rambut kuduk tergerai, berlari di pusat kota, Jakarta. Tidak peduli pada yang ada, sekelilingnya, juga tidak pada manusia. Dia meringkik alangkah dahsyatnya, menampak dan menyepak alangkah merdekanya. Dunia ini, seolah cuma menjadi miliknya! Dan sekaligus seolah dia bicara:

kalau sampai waktuku

kumau tak seorang kan merayu

tidak juga kau

tak perlu sedu sedan itu

aku ini binatang jalang

dari kumpulannya terbuang



Gaung suara ini seolah membelah langit, membelah bumi.”

Adegan-adegan film yang tergambar dalam skenario ini tak sempat diwujudkan oleh sang penulis sekaligus sutradara, Sjuman Djaya. Niatnya untuk mewariskan semangat penyair besar yang dikaguminya, Chairil Anwar, bagi para penikmat sinema tak pernah jadi nyata. Namun tak dapat disangkal bahwa skenario ini merupakan salah satu karya terpenting Sjuman Djaya yang menempatkannya di jajaran para seniman besar Indonesia.

Aku

Sembang Buku

© Lubuk Buku Malaysia. Design by Fearne.