AAN MANSYUR

M Aan Mansyur (lahir di Bone, Sulawesi Selatan, 14 Januari 1982) merupakan penulis puisi dan cerpen. Beberapa karyanya: kumpulan puisi berjudul Hujan Rintih-Rintih (2005), kumpulan cerpen Kukila (2012), kumpulan puisi Melihat Api Bekerja (2015), dan kumpulan puisi Tidak Ada New York Hari Ini (2016).

M. Aan Mansyur


Aku benci berada di antara orang-orang yang bahagia. Mereka bicara tentang segala sesuatu, tapi kata-kata mereka tidak mengatakan apa-apa. Mereka tertawa dan menipu diri sendiri menganggap hidup mereka baik-baik saja. Mereka berpesta dan membunuh anak kecil dalam diri mereka.

Aku senang berada di antara orang-orang yang patah hati. Mereka tidak banyak bicara, jujur, dan berbahaya. Mereka tahu apa yang mereka cari. Mereka tahu dari diri mereka ada yang telah dicuri.

"Menikmati Akhir Pekan"

“Aan adalah salah seorang dari dua atau tiga penyair kita yang berhasil memaksa kita dengan cermat mendengarkan demi penghayatan atas keindahan dongengnya.“ -Sapardi Djoko Damono-

Melihat Api Bekerja: Kumpulan Puisi


Hari-hariku membakar habis diriku
Setiap kali aku ingin mengumpulkan
tumpukan abuku sendiri, jari-jariku
berubah jadi badai angin.

Dan aku mengerti mengapa cinta diciptakan

Tidak Ada New York Hari Ini


Kepalaku: Kantor Paling Sibuk Di Dunia
Kumpulan Puisi
oleh M Aan Mansyur
prakata oleh Wan Nor Azriq

Engkau selalu sengaja
memilih busana
yang sederhana
agar kecantikanmu
tidak karam ke dalam kemewahan.

Aku selalu sengaja
memilih bahasa
yang bersahaja saja
agar makna sajakku
tak lenyap di perangkap ungkapan.

Kepalaku: Kantor Paling Sibuk di Dunia


“Kau percaya masa depan masih memiliki kita?”

“Akan selalu ada kita. Aku percaya.”

NANTI tidak bisa begitu saja menoleh dan pergi dari masa lalu meskipun ia sudah berkali-kali melakukannya. Terakhir, ia mengucapkan selamat tinggal dan menikah dengan lelaki yang kini berbaring di makamnya itu.

Aku tidak pernah ingin mengucapkan selamat tinggal.

Aku tidak pernah mau beranjak dari masa lalu.

Masa lalu, bagiku, hanyalah masa depan yang pergi sementara.

Namun, ada saatnya ingatan akan kelelahan dan meletakkan masa lalu di tepi jalan. Angin akan datang menerbangkannya ke penjuru tiada. Menepikannya ke liang lupa. Dengan menuliskannya, ke dalam buku, misalnya, masa lalu mungkin akan berbaring abadi di halaman-halamannya.

Maka, akhirnya, kisah ini kuceritakan juga.

Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi


sudahkah kau memeluk dirimu hari ini?

masih aku ingat pertanyaanmu itu.
dulu aku tak bisa menjawabnya,
tetapi begitulah kau, selalu begitu,
jika ada pertanyaan kau lontarkan
sudah kau siapkan juga jawaban.

lenganmu memang terlalu pendek buat tubuhmu,
tetapi tentu saja cukup panjang buat tubuhku.

lalu kau merasuk ke dalam pelukanku
dan berdiam di sana.

....

Sudahkah Kau Memeluk Dirimu Hari Ini?


jika saja

tak ada beberapa kata

yang tak bisa tidur,

puisi ini dan kau

bisa mudah bertemu

di alam senyap-mata-lelap


tapi

di dalam tiap puisi

selalu ada beberapa kata

yang tak bisa tidur.


maka

satu-satunya cara

kau dan puisi ini

harus saling mencari

di tengah keriuhan kata

dengan mata terbuka.

Tokoh-Tokoh Yang Melawan Kita Dalam Satu Cerita


Gunung-gunung biru. Langit lapang dan selalu baru. Udara dan mata penduduk desa yang tenang. Ternak-ternak gemuk dan hamparan padi yang jauh dari hama milik departemen pertanian–dan hal hal lain yang hanya bisa dipetik dalam mimpi.

Jangan bangun. Harapan para petani bertarung dengan perut rakus orang kota. Petak-petak sawah terjual.Anak-anak muda hilang ditelan sekolah dan pabrik milik tuan dari luar negeri.

Petikan kecapi sayup. Kebahagian yang tidak cukup. Kesedihan yang tidak sanggup menghibur diri. Tidurlah. tidurlah kembali.

Sebelum Sendiri


Suatu hari kelak, sebelum salah satu di antara aku dan kau tersangkut maut, pada hari ulang tahun kau, ketika tidak ada pekerjaan kantor yang melarang kau cuti, aku akan mengajak kau menjadi tua renta, kemudian mengajak kau kembali menjadi anak-anak.

Cinta Yang Marah


pergi adalah kemestian

bagi seorang anak. pergilah.

bertualanglah. jangan hilang.



dan di antara segala

kemungkinan, pulang semata

satu pilihan.



kita tahu, ingatan tidak butuh

jam tangan—hanya seseorang

di kejauhan.



sebelum rela kau kulepaskan,

apa pun kelak menimpa hidupmu,

aku ibumu selamanya. pergilah.

kau tidak boleh merasa iba

dan bersalah.



biarkan jiwaku menghutan

bersama waktu dan pertanyaan:

di mana sesungguhnya ingatan

berumah. di kepala. di dada.

di angkasa.



atau di udara?


Intisari

Berisi kumpulan puisi yang terinspirasi dari film Another Trip to the Moon karya Ismail Basbeth. Puisi-puisinya akan ditemani dengan ilustrasi, foto-foto, dan lagu-lagu yang juga diinspirasikan dari film tersebut.

Perjalanan Lain Menuju Bulan (with CD)


Nak, dua hal aku benci dalam hidup: September dan pohon mangga. September tidak pernah mau beranjak dari rumah. Betah. Ia sibuk meletakkan neraka di seluruh penjuru. Di ruang tamu. Di ranjang. Di meja makan. Bahkan di dada.Batang pohon mangga tetap selutut persis prasasti batu. Ia berdiri mengekalkan dosa-dosa—dan dosa adalah pemimpin yang baik bagi penyesalan-penyesalan.

Kukila adalah perempuan itu, yang membenci September dan pohon mangga. Hidupnya didera rasa bersalah yang besar, kepada mantan suaminya, mantan kekasihnya, dan anak-anaknya. Kepada suratlah dia berbicara dan kepada pohon-pohonlah dia menyembunyikan masa lalu, karena rahasia, konon, akan hidup aman dalam batang-batang pohon.

Selain “Kukila (Rahasia Pohon Rahasia)”, di dalam buku ini ada dua belas cerita pendek lain, dikisahkan dalam kata-kata Aan Mansyur yang manis, bersahaja, kadang sedikit menggoda.

Kukila

Sembang Buku

© Lubuk Buku Malaysia. Design by Fearne.